Home > piece of mine and mind > Accepted..

Accepted..

“Sebuah film remaja keluaran Hollywood. Begini sekelumit kisahnya, beberapa remaja yang selepas SMU tidak diterima di satu pun college. Dan akhirnya beberapa membuat college fiktif untuk membohongi orangtua mereka.”

Cerita dalam film itu sedikit menggelitik pikiran saya, menggelitik pola yang selama ini dijalankan oleh banyak dari kita. Sekolah dengan benar,go to college,dapat kerja,gaji cukup,punya istri/suami,punya anak,berarti anda bahagia..

Film ini ingin anda merasakan bagaimana rasanya being rejected,mungkin banyak dari kita yang pernah mengalami ditolak. Dalam banyak hal,tapi ingatkah rasanya ditolak ketika hal tersebut menentukan masa depan kita berikutnya..

Sedih banget yah,apalagi kesedihan kita sebenarnya terbentuk oleh sebuah sistem. Sistem yang membatasi kebebasan kita sebagai seorang manusia.

Selama ini sistem pendidikan kita secara umum selalu menilai kita, dengan angka. Bah, kita hanya disejajarkan dengan angka bukan dengan fitrah kita sebagai seorang individu yang berbeda. Sehingga setau saya kita dinilai dengan 5 tingkatan mungkin jenius, cerdas, biasa saja, bodoh, dungu. Menyedihkan..

Bagi saya pendidikan setidaknya dapat menjadikan kita manusia yang lebih bertanggung jawab dan mengerti apa yang kita inginkan sekaligus bebas mementukannya. Tentunya jangan memandang sempit arti kata pendidikan, pendidikan bukan hanya dalam artian sekolah formal. Tapi setiap desah nafas, berarti kita sedang belajar.

Saya sendiri sedang dalam masa pendidikan dan seumur hidup pun akan demikian..amin :) , tujuan utama saya menjadi manusia ‘bebas’ dan bertanggung jawab. Sungguh tidak mudah ternyata..

Film ini juga mengingatkan pada kebijakan pemerintah tentang UN a.k.a ujian Nasional. Saya tidak melakukan riset khusus sehingga kalo pendapat saya ini dibantah, saya belum bisa memberikan argumentasi yang cukup beralasan. Mengapa saya menolak Ujian Nasional ini? Ada banyak alasan, secara umum saya benci dinilai dengan angka. Walaupun saya tahu semua hal perlu parameter keberhasilan, tapi saya tetap percaya manusia sebagai individu tidak bisa disejajarkan dengan angka. Kalau alasan logis yang lain juga banyak, salah satunya pendidikan kita belum merata bung. Jadi jangan menyamakan parameter, bagi saya UN adalah jalan pintas atau jalan mudah untuk menentukan kelulusan siswa. Sudahlah..akan panjang argumentasi saya nantinya. Lelah..

Tapi walaupun kita hidup dalam sebuah sistem yang terkadang tidak kita sukai, menurut saya, jangan jadi budak dalam sistem ini. Anda ini manusia bebas ‘dengan tanggung jawab masing2 yak..’. Kadang yang membuat kita merasa gagal ketika being rejected adalah pikiran kita sendiri.  Saya sendiri cuma ingin meyakinkan diri sendiri dan teman2 yg sempat baca tulisan ini kalau alam semesta ini terlalu luas untuk menolak eksistensi kita ;)

salam

Advertisement
  1. October 25, 2010 at 12:26 pm | #1

    semoga generasi di bawah kita ga perlu mengalaminya. tapi mungkin generasi ke-2, karena perlu waktu untuk mengubah bangsa ini dan perilaku pelaku pemerintahannya. saat itu, generasi kolot/kuno sudah benar-benar tergantikan dengan yang modern (memimpikan indonesia yang orang-orangnya modern)

    eh, baru tau en liat kalo layoutnya ganti :P

  2. November 2, 2010 at 7:26 am | #2

    eh sebentar emang generasi kita ntar nggak dibilang kolot sama yg muda2 :D .seeep lah intinya mah tetep berpikiran terbuka dan tidak selalu merasa benar kan pe :D ..iya ganti layout. Atuh kemana aja..udah lama juga.

  3. November 24, 2010 at 4:13 am | #3

    pinah :
    eh, baru tau en liat kalo layoutnya ganti

    awak baru liat juga nih :-D

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.