Home > piece of mine and mind > Yogyakartaku

Yogyakartaku

Beberapa hari ini aku sedang merindukannya..Yogyakarta.Sengaja aku memutar lagu Yogyakartanya Kla Project. Lagu yang kata temen, masterpiece, mau tak mau menndengarkan lagu ini pasti akan terkenang dengan yogya dengan segala memori yang aku punya. Walaupun hanya sekitar tiga tahun aku tinggal si kota ini, tapi selalu saja aku merasakan aura yang berbeda setiap mengenang kota ini. Secara tak sengaja pula aku melihat 3 film dengan setting tempat kota yogya dalam 1 minggu ini. Tapi 3 film itu menyajikan tiga wajah yang berbeda dari kota ini. Kekasih, Daun di Atas Bantal, dan Perempuan Punya Cerita.

Kekasih, menurutku filmnya biasa saja. Karakter ceritanya tidak kuat, dialognya membosankan, tapi suasana kota nya yang ku nikmati. Film ini menghadirkan sedikit tentang masalah bibit, bebet, dan bobot. Masalah klasik dalam hal jodoh perjodohan :). Yang terkadang itu diidentikan dengan budaya jawa atau budaya kraton. Tapi ya ok lah, kurasa memang masih banyak para orang tua menginginkan yang ‘terbaik’ bagi anak-anaknya.

Kedua, Daun di Atas Bantal. Pasti banyak yang tahu tentang film ini. Karya seorang masterpiece juga, Garin Nugroho. Pemeran utama film ini tiga anak jalanan. Film ini memang mengisahkan lika-liku anak jalanan di seputar kota Yogya. Sepanjang aku tinggal di Yogya selama tahun 1998-2001, anak jalanan memang selalu hadir di sekitarku. Kebetulan aku dulu tinggal tak jauh dari stasiun Lempuyangan, salah satu tempat mangkal mereka. Kurang lebih sama penggambaran dalam film itu dengan kenanganku tentang mereka. Setiap sepulang sekolah selalu saja aku menjumpai mereka di perempatan deket jalan layang-UKDW dengan segala aktifitasnya. Jujur, saat itu sering aku merasa terganggu dengan kehadiran mereka. Tetapi terkadang memaklumi dengan apa yang mereka lakukan. Jalanan memang bukan rumah yang nyaman buat siapapun, apalagi buat anak-anak. Tapi terakhir aku lewat daerah itu, daerah itu sudah sepi dari anak-anak jalanan. Mungkin banyaknya LSM yang memberikan tempat bernaung bagi mereka turut mengambil andil berkurangnya mereka hidup di jalanan.

Film ketiga, Perempuan Punya Cerita. Salah satu setting tempatnya di Yogyakarta. Menghadirkan kehidupan seks bebas di kota ini. Menarik, hanya itu komentarku. Yah, memang itu lah yang terjadi. Mungkin bukan hanya di kota ini, tapi di banyak tempat. Membahas masalah seks bebas mungkin akan panjang sekali, mencari akar permasalahannya pun membutuhkan analisa yang panjang. Semacam membahas UU Pornografi yang butuh ‘belasan’ tahun untuk menyepakatinya :d. Seperti mencari pangkal benang kusut, perkiraanku sih hal ini tidak akan selesai sampai dunia kiamat :P.

Itulah mungkin Yogyakarta, dengan segala keindahannya dan keburukannya. Yogya memang selalu berubah, apalagi dengan arus perpindahan yang cukup cepat. Banyak yang datang, banyak yang pergi.Yogya bukan kota kecil seperti jaman aku TK dulu, sekarang sudah banyak mal, tempat dugem, anak jalanan , dan warna2 ‘kota besar’ yang lain. Tapi kemanapun aku pergi tetap tidak bisa menemukan warna yang selalu ku temui di sudut-sudut kota ini. Suasana yang selalu menuntunku untuk selalu pulang ke kota Yogyaku.

Advertisements
  1. December 18, 2008 at 3:14 am

    Di Djokdja:
    Makan pecel lele bayar 25 rebu. Malioboro tahmama … πŸ˜†

  2. Dading Nugroho
    December 18, 2008 at 8:57 am

    Ahhh kang eddy lah wong saya makan pecel lele di stasiun atau terminal Jogja cuma 2500 πŸ˜€

    Salah mbaca nolnya kali kang eddy πŸ˜›

  3. December 20, 2008 at 10:47 am

    makanya nanya dulu bung kalo mo beli, setau ku dulu memang suka main tembak gitu. Tapi sekarang kebanyakan udah ada daftar harganya kok..kebanyakan sih gitu

  4. December 23, 2008 at 3:11 am

    @Mas Dading
    Sayah makan di Malioboro mas, bukan stasiun dan terminal. Hehe … :mrgreen:

    @oncysumur
    Itu awal 2004. Udah ganti ya sekarang? Baguslah …

  5. Dading
    December 23, 2008 at 2:14 pm

    @ kang -eddy- : uuupppssss maaph kang -eddy- maklum, beda euy πŸ™‚ Di Malioboro dan di terminal/stasiun beda jumlah nolnya dan mungkin rasanya πŸ™‚

    Itu dulu saat sama anak-anak KM yah kang -eddy-?

    Kembali ke topik, Yogyakarta adalah salah satu kota besar yang pertama kali saya kunjungi saat masih piyik dulu, pertama kali perjalanan jauh pakai bis, pertama kali mabuk di Bis, pertama kali ke pantai (parang tritis).

    Setelah nggak jadi piyik lagi, melihat Jogja saat pulang kampung atau kembali ke Bandung πŸ™‚ –> Ring roadnya bagus, jalan dibagi untuk kendaraan cepat dan lambat, terminalnya paling bagus sepulau Jawa, makanannya murah-murah dan enak, masih ngelihat banyak yang pakai sepeda, terus punya AAU juga, dan Jogja adalah start-nya balapan bis biasanya Sumber Kencono, Restu, Mandala, Eka, Mira lan sapanunggalane finishnya di Surabaya tapi saya turun di Jombang πŸ˜› jadi ndak tahu pemenangnya siapa πŸ˜›

  6. December 24, 2008 at 9:56 am

    Iya betul, yang bareng kabinet + beberapa perwakilan himpunan se-ITB. Ketimbang Solo lebih bagusan Jogja, dan perjalanan Solo – Jogja asik pemandangannya.

    Oh ya, waktu itu ngobrol sama seorang ibu di beranda masjid deket Malioboro, dan si ibu ternyata punya pengalaman yang sama denganku mengenai pecel lele. Haha …

  7. January 16, 2009 at 10:40 am

    huhuhu, ndak pernah ke yogya, jadi ndak tau mau komen apa. pengen euy..

  8. December 22, 2009 at 5:30 am

    halah si ainul, mosok gak pernah. malang – jogja jalan kaki juga nyampe ini.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: