Home > Uncategorized > Mengejar GMT 2016

Mengejar GMT 2016

Gegap gempita Gerhana Matahari Total (GMT), 9 Maret 2016, ini sudah mereda. Menyisakan potret-potret cantik sang Surya yang tertutup Bulan. Saya yakin, banyak cerita dan perjuangan di balik foto-foto itu.
Alhamdulillah, saya berhasil menjadi salah seorang saksi GMT. Bagi saya bisa menyaksikan GMT kali ini adalah sebuah prestasi. Kesibukan domestik sebagai seorang ibu dan istri membuat saya tidak ikut ‘sibuk’ menyiapkan persiapan GMT dengan maksimal. Tidak seperti ketika Gerhana Matahari Cincin (GMC) 2009 silam.

pengalaman terbang pertama buat Reksa

Pengalaman terbang pertama buat Reksa

Gerhana Matahari adalah peristiwa yang luar biasa bagi saya dan tentunya bagi para pencinta ilmu Astronomi. Saya termasuk salah seorang yang terpesona dengan gerhana Matahari. Diawali saat kekaguman menyaksikan GMC 2009, saya bertekad untuk mengejarnya selama masih memungkinkan. Gerhana Matahari Total bukanlah peristiwa yang sangat jarang terjadi, tapi peristiwa GMT melewati daerah yang sama adalah sesuatu yang langka. Apalagi GMT kali ini melewati daerah dengan cakupan yang cukup luas dan bukan daerah terpencil. Jadi, saya tidak punya alasan untuk tidak mengejarnya :). Publikasi tentang GMT 2016 kali ini sangat luar biasa, berbagai siaran televisi nasional menyediakan sesi khusus tentang serba serbi GMT. Masyarakat pun menjadi antusias menyambut GMT kali ini.
Akhirnya dengan perjuangan yang panjang (berbagai drama buat persiapan GMT ini biarlah jadi legenda aja :D), saya sekeluarga (suami,saya, dan anak) memutuskan mengejar GMT ke Palangkaraya. Tidak mudah tentunya mengajak balita dengan target yang muluk2, jadi tujuan saya kali ini cukup sederhana. Menikmati dan merasakan GMT sekaligus mengajak si kecil dalam lingkaran kebahagian saya :).
Menanti saat GMT adalah peristiwa yang mendebarkan, cerahkah? mendungkah? atau hujan?. Astronom dengan cuaca memang selalu punya love and hate relationship.
9 Maret 2016 pun tiba, hujan deras sejak pukul empat dini hari sudah mengguyur kota Palangkaraya. Pukul 05.30 hujan juga belum reda, perut udah mules tapi the show must go on. Berbekal pengalaman ketika GMC, saya tidak boleh berputus asa dengan cuaca. Masih terpatri dalam ingatan, gerimis yang menyertai saya ketika menanti waktu GMC. Gerimis masih setia menemani perjalanan kami menuju lokasi pengamatan GMT, tetapi dari sebelah timur si aktor utamanya sudah mulai tersenyum. Walaupun awan rendah masih sering menutupinya. Berbekal payung untuk melindungi si kecil dan kamera,kami pun bersiap menjadi saksi GMT. Bismillah, harap-harap cemas menanti saat GMT. Kontak pertama terlewat, angin justru bergerak ke arah timur. Beberapa menit setelahnya awan pergi, suami pun berhasil memotret gerhana beberapa kali sampai akhirnya Matahari kembali tertutup awan. Saya masih mempunyai harapan besar untuk bisa menikmati fase totalitas gerhana Matahari. Alhamdulillah, kurang lebih dua atau tiga menit sebelum fase totalitas awan tiba-tiba pergi menjauh dari Matahari. Pukul 07.28 saat masuk totalitas, GMT bisa kami abadikan. Baik dengan kamera atau pun dengan hati,pikiran dan perasaan :). Kami beruntung bisa mengabadikan GMT, karena banyak rekan yang mengamati GMT dari Palangkaraya tidak berhasil memotretnya karena awan memang setia mendampingi kami melewati gerhana ini. Walaupun tidak secerah ekspektasi kami, tapi rasanya sungguh luar biasa bagi saya pribadi. Momen dan rasa yang mungkin tidak akan mudah menguap di memori saya :). Terima kasih banyak untuk suami yang kekeuh melepas tugas on duty nya dan rela berpetualang dengan saya dan Reksa :).

totality-300mm-8s-iso800-729

Fase Totalitas, 300 mm-8 s-iso 800-07.29 WIB (kredit,Hanief Trihantoro/duniaastronomi.com)

Pengamatan GMT di Palangkaraya ini sedikit menyisakan rasa kecewa sekaligus senang. Jujur saya agak lega karena awan mampu menjadi filter untuk cahaya Matahari, karena saat gerhana banyak masyarakat yang tidak menggunakan alat yang aman untuk mengamatinya. Ada yang hanya berbekal kacamata hitam atau lembaran bekas rontgen. Sebagai lulusan Astronomi saya selalu merasa punya tanggungjawab untuk meyakinkan masyarakat bagaimana cara menikmati GMT dengan aman. Jadi sedih karena tidak bisa berbuat banyak waktu itu, karena cuma tiga kacamata matahari yang kami bawa. Alhasil saya hanya meminjamkan pada anak-anak di sekitar saya, karena mereka yang paling saya khawatirkan. Semoga kelak, kami bisa berbuat lebih banyak dan lebih baik. Sampai jumpa di GMC 2019 yaa,insyaAllah..

Jpeg

good bye Palangkaraya 🙂

Advertisements
Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: