Archive

Archive for the ‘AstroStuff’ Category

Menikmati Matahari dengan Aman

January 8, 2009 28 comments

Matahari sebagai bintang terdekat dari bumi tentunya bisa kita amati dan abadikan keindahannya dengan menggunakan alat-alat optik. Seperti teleskop, binokular, dan kamera digital. Pancaran matahari yang memasuki bumi dan kemudian difokuskan oleh alat optik akan mengakibatkan kerusakan pada retina mata apabila intensitasnya tidak dikurangi. Hal ini bisa dibuktikan apabila kita meletakkan kertas di bawah kaca pembesar dan diarahkan ke matahari, seketika kertas akan terbakar. Sehingga untuk mengurangi intensitas cahayanya yang terlalu besar mutlak diperlukan filter matahari.

Filter matahari biasanya terbuat dari bahan kaca yang dilapisi campuran nikel dan kromium atau terbuat dari milar yang dilapisi dengan logam. Filter jenis ini bisa didapatkan di vendor-vendor penyedia filter matahari sebagai berikut,

http://www.astro-physics.com

http://www.baader-planetarium.com

http://www.coronadofilters.com

http://www.kendrick-ai.com

http://www.OrionTelescopes.com

http://www.rainbowsymphony.com

http://www.SeymourSolar.com

http://www.thousandoaksoptical.com

Untuk pengamatan matahari secara langsung dapat digunakan filter dari bahan yang sederhana. Filter matahari aman digunakan apabila kerapatan optiknya 5 atau lebih. Filter dapat dikatakan aman apabila memiliki kekedapan yang baik terhadap sinar UV dan Inframerah.

Bahan sederhana yang aman digunakan untuk fiter matahari film hitam putih (Kodak TMAX 100 atau Kodak PlusX sudah diuji dan aman untuk pengamatan matahari ataupun gerhana matahari secara langsung). Bahan jenis ini aman karena memiliki lapisan perak setelah film dicuci. Bagaimana cara membuat filter matahari ini? Sediakan satu rol film hitam-putih dan 2 lembar kertas karton (ukuran dapat disesuaikan dengan besarnya potongan film). Pertama, buka semua rol film dan paparkan di cahaya matahari selama 60 detik. Setelah film terbakar, cuci film ini seperti biasanya. Apabila kita akan memprosesnya di Foto Studio, sertakan catatan bahwa film ini memang sudah terbakar dan minta untuk jangan memotong negative film ini. Setelah itu, potong negative film ini dengan ukuran sekitar 5 x 5 cm (tergantung kebutuhan). Agar filter jenis ini aman digunakan, tempelkan 2 potongan negative film ini. Dan tempelkan ke kartas karton yang sebelumnya telah kita beri lubang. Filter ini pun siap digunakan untuk pengamatan matahari secara langsung. Sebagai catatan jangan gunakan hanya satu lapis negative film hitam putih ataupun negative film warna. Film warna tidak memiliki lapisan perak yang dapat melindungi retina mata. Selain itu film warna tidak memiliki kekedapan yang cukup pada pancaran gelombang infra merah. Hampir 50 % radiasi infra merah diteruskan dengan filter film warna.

Sedangkan untuk Floppy disk dan CD tidak begitu aman sebagai bahan filter matahari. Hal ini disebabkan oleh tidak seragamnya kualitas produk ini. Terdapat beberapa produk CD hanya dilapisi film aluminium yang tipis. Mengenai keamanan berbagai bahan filter pernah dilakukan pengetesan oleh Ralph Chou dan inilah hasil yang diperolehnya,

filter

Sumbu y menggambarkan tingkat kekedapan filter, semakin besar bilangannya berarti semakin aman filter tersebut. Sedangkan sumbu y adalah radiasi dalam pancaran ultraviolet dan infra merah.

Selamat menikmati indahnya matahari..have a clear skies!!

sumber utama : http://www.mreclipse.com

Categories: AstroStuff

Sekelumit tentang Sejarah Teleskop

November 5, 2008 2 comments

Ketika kita melihat langit malam yang cerah penuh dengan bintang, pasti ada rasa ingin tahu apa sebenarnya benda yang selalu menghiasi langit malam. Kecerdasan manusia menuntun kita untuk menciptakan alat yang dapat mendekatkan manusia dengan berbagai objek di luar planet Bumi tersebut. Teleskop adalah salah alat yang dapat menghubungkan kita yang berada di bumi dengan informasi dari luar angkasa. Teleskop digunakan untuk mengumpulkan berkas cahaya atau radiasi elektro magnet dari objek-objek astronomi. Alat ini dapat menambah fokus dan kecerlangan benda dibandingkan diamati dengan mata telanjang dan memiliki fungsi perbesaran yang bergantung pada panjang fokus. Istilah teleskop diberikan oleh Pangeran Frederick saat Galileo memperagakan alatnya pada 14 April 1611.

Terciptanya teleskop diawali dengan berkembangnya teknologi lensa dan cermin. Dimulai pada 3500 sebelum Masehi kaum Phoenix menemukan kaca, dibutuhkan waktu yang lama untuk berkembangnya teknologi ini hingga ditemukannya lensa. Tercatat pada text Arab, Opticae Thesaurus, yang ditulis pada abad ke 11 Masehi oleh seorang ilmuwan matematika dari Iraq Al-Haitham atau dikenal juga dengan Al-Hazen yang melakukan berbagai eksperimen optik. Mulai saat itu Al Hazen dikenal sebagai Bapak Optik Modern. Sejak era Al Hazen banyak ilmuwan seperti Roger Bacon, Pole Witelo, Leonardo da Vinci, dan Johann Kepler yang terinspirasi oleh karya itu dan mulai mengembangkan ilmu tentang optik. Berkembangnya teknologi lensa menjadi cikal bakal ditemukannya teleskop.

Pada tahun 1608 seorang ilmuwan dari Belanda, Hans Lipperhey meletakkan dua lensa di sebuah tabung dengan jarak tertentu dan digunakan untuk mengamati objek yang berjarak jauh. Ternyata objek tersebut terlihat lebih dekat. Walaupun ide teleskop ini dibangun oleh banyak ahli optik tapi Lipperhey yang tercatat sebagai pemegang hak paten penemu teleskop karena mendaftarkan penemuan tersebut. Teleskop yang pertama dikembangkan ini tidak digunakan untuk kepentingan astronomi, tetapi digunakan untuk kepentingan militer.

Galileo merupakan ilmuwan yang pertama kali mempublikasikan secara luas penggunaan teleskop untuk keperluan astronomi. Mulai pada tahun 1609 Galileo berhasil mengamati kawah bulan, empat bulan dari planet Jupiter, bintik matahari, dan cincin planet Saturnus. Galileo mempublikasikan hasil pengamatan pada Maret 1610, teleskop Galileo ini memiliki fungsi perbesaran 30 kali. Sebelum Galileo, Thomas Harriot tercatat telah mengamati bulan dan berhasil merekam kawah-kawah bulan. Teleskop Galileo menggunakan lensa sebagai alat optiknya, yang dikenal dengan teleskop refraktor.

moon_drawing_thomas_harriot


Ilmuwan-ilmuwan seperti Rene Descartes, Keppler, Huygens, dan Hevelius turut mengembangkan dan menggunakan teleskop jenis ini untuk penelitian astronomi.

Aberasi kromatis yang menjadikan kelemahan pada teleskop refraktor, memacu para ilmuwan untuk mencari optik yang berbeda untuk teleskop. Aberasi kromatis atau aberasi warna disebabkan oleh cahaya dengan warna atau panjang gelombang yang berbeda dipusatkan oleh lensa pada titik yang berbeda pula. Aberasi warna ini menyebabkan citra dari objek yang kita amati seperti dikelilingi oleh lingkaran cahaya yang tampak kabur. Marrin Mersenne pada sekitar tahun 1636 memiliki ide untuk menggunakan cermin sebagai sistem optik pada teleskop dan James Gregory pada tahun 1663 mulai mendesain sistem optik teleskop dengan menggunakan cermin. Akan tetapi baru pada tahun 1668 Newton berhasil mewujudkan teleskop dengan sistem optik utamanya menggunakan cermin atau dikenal dengan teleskop reflektor. Teleskop Newton ini berhasil mengatasi aberasi kromatis yang terjadi pada teleskop refraktor, selain itu perbesarannya lebih kuat daripada lensa.

Teleskop refraktor mulai diminati kembali setelah Chester Moon Hall (1729) mengembangkan lensa akromatik yang dapat mengatasi aberasi kromatis. John Dolland pada 1757 meningkatkan kemampuan lensa tersebut sehingga dapat lebih mengatasi masalah aberasi kromatis pada teleskop refraktor.

Kedua jenis teleskop ini terus dikembangkan dan disesuaikan penggunaannya sesuai dengan keperluannya masing-masing. Berkembangnya teleskop diiringi dengan berdirinya observatorium, tempat pengamatan objek-objek astronomi dan penelitian astronomi dijalankan.

Categories: AstroStuff

Mengenal Binokular untuk Astronomi

October 24, 2008 1 comment

Apabila kebanyakan dari kita ditanya alat apa yang bisa digunakan untuk melihat keindahan langit, bisa dipastikan teleskop adalah kata yang pertama kita ingat. Padahal ada alat alternatif lain yang mungkin sering kita lupakan. Yaitu Binokular, alat ini mungkin lebih dikenal untuk mengamati objek-objek terestrial. Tapi jangan salah, alat ini sangat memadai untuk mengamati objek-objek astronomi.Binokular adalah alat yang sangat mudah dibawa kemanapun sehingga memungkinkan untuk melihat berbagai objek dengan lebih cepat tanpa harus kerepotan dengan melakukan bongkar pasang. Tapi banyak sekali jenis binokular yang beredar saat ini, sehingga kita harus pintar memilih binokular yang tepat dan sesuai untuk tujuan yang kita inginkan. Jadi, apabila anda ingin membeli binokular untuk stargazing, semoga tulisan ini bisa memberikan sedikit petunjuk.

Spesifikasi yang pertama harus diperhatikan untuk memilih binokular adalah aperture atau diameter lensa depan binokular. Semakin besar aperture berarti semakin banyak pula lensa mengumpulkan cahaya. Ukuran aperture ini bisa dilihat dari 2 angka yang biasanya tertulis di tiap binokular. Misalnya 7X35, berarti binokular ini berdiameter 35 mm dan memiliki perbesaran (magnification) mencapai 7x. Kebanyakan binokular berdiameter 35mm, akan tetapi untuk keperluan astronomi sebaiknya anda memilih paling tidak binokular yang berdiameter 40mm.

Untuk fungsi perbesaran, sebaiknya kita memilih binokular yang seperti apa? Perlu dipahami bahwa menggunakan binokular seperti menggunakan teleskop refraktor dengan dua mata sekaligus. Sehingga kita harus memperhatikan cara kerja dan kemampuan mata yang unik untuk tiap orang. Secara umum, untuk keperluan astronomi anda bisa memilih binokular dengan magnification 7x. Disarankan pula apabila anda memilih binokular dengan ukuran yang besar, misalnya 10×50, anda harus menggunakan tripod untuk mendapatkan gambar yang lebih stabil dan tajam.

Karena keunikan masing-masing mata tersebut kita harus memperhatikan spesifikasi yang lain. Yaitu exit pupil binokular, yaitu lebar berkas cahaya yang melewati eyepiece binokular. Exit pupil bisa dihitung dengan membagi besarnya aperture dengan perbesarannya. Misalnya, binokular dengan spesifikasi 7×50 memiliki exit pupil sekitar 7mm. Pada umumnya ukuran exit pupil mata manusia pada siang hari adalah 2 mm dan pupil akan membesar ketika menerima lebih sedikit cahaya. Untuk stargazing biasanya digunakan binokular dengan exit pupil sekitar 5mm. Tetapi akan lebih baik apabila exit pupil binokular disesuaikan dengan besarnya pupil mata kita. Sebagai informasi besar pupil mata manusia sangat bergantung pada umur. Secara umum besar pupil mata manusia dengan kondisi sedikit penerangan kurang lebih 7 mm, untuk orang yang berumur 30 tahun ke bawah. Dan sekitar 5 mm untuk 40 tahun ke atas. Apabila kita menggunakan binokular dengan exit pupil yang lebih besar dari ukuran besar pupil mata, cahaya yang datang tidak sepenuhnya dapat diterima oleh mata sehingga mengakibatkan gambar terlihat lebih redup.

Field of View (FOV) atau medan pandang adalah hal yang juga harus anda perhatikan. FOV ini biasanya dikenali dengan berapa derajat besarnya FOV. Secara umum semakin besar FOV berarti medan pandang semakin luas, tetapi perlu diketahui semakin besar perbesaran akan mengurangi besarnya FOV. Kebanyakan binokular memiliki FOV sekitar 6 deg sampai 7 deg.

Satu hal yang sangat penting pula adalah tipe prisma yang digunakan oleh binokular. Terdapat dua tipe prisma yang digunakan, yaitu porro dan roof. Berikut adalah ilustrasi jalannya cahaya dengan dua jenis prisma yang berbeda.

porro-roof-diagram

sumber foto: http://www.sherwoods-photo.com

Untuk keperluan astronomi disarankan anda memilih binokular dengan porro prisma. Binokular dengan kualitas tinggi dibuat dari barium crown glass (BaK-4). Dan akan lebih sempurna apabila coating lensanya Fully multy-coated. Hati-hati jangan memilih binokular dengan coating lensa ruby coated, karena jenis coating lensa ini diperuntukan untuk keadaan yang terang.

Yang terakhir adalah kolomasi, kolimasi dalam pemilihan binokular ini berarti antara optik dan mekaniknya teralign dengan sempurna. Bagaimana cara mengenali binokular yang terkolimasi? Coba gunakan binokular yang akan dipilih dengan mengamati objek yang jauh, dekat, dan objek antara jarak dekat dan jauh. Apabila anda tidak dapat memfokuskan objek-objek tersebut berarti ada masalah kolimasi pada binokular tersebut. Kolimasi binokular juga bisa dilihat dengan cara menfokuskan binokular dengan menutup sebelah mata, apabila kita tidak bisa menfokuskan dengan cara ini berarti ada masalah dengan kolimasinya.

Mengenai harga binokular tentunya bervariasi bergantung spesifikasinya. Tapi tentu saja harga lebih bisa dijangkau dibandingkan dengan harga teleskop. Binokular kecil untuk astronomi harganya berkisar 25$, sedang untuk ukuran sedang bervariasi antara 50$ sampai 75$. Dan untuk ukuran besar harganya mulai dari harga 100$.

Sumber : universetoday.com, astronomy.com

Categories: AstroStuff